TITLE

tengkorak

Kamis, 07 Juni 2012


EFEKTIFITAS KELAS PENDAMPINGAN DALAM
UPAYA MENGATASI PROBLEM BELAJAR
DENGAN PENDEKATAN INKLUSIF

Sumantri dan Siti Badriyah
Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta

ABSTRAK
Konsep pendidikan inklusif di SD plus Al Firdaus dilaksanakanoleh kelas pendampingan. Kelas pendarnpingan ditangani oleh SDMyang terdiri dari guru khusus, Okupasi Terapi (OT) dan psikolog. Merekabekerja sama dengan komponen sekolah untuk memberikan layanansecara khusus kepada anak yang membutuhkan. Untuk mempermudahdalam memberikan pelayanan kepada anak yang mengalami problembelajar, maka anak dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu anak yangmengalami kesulitan belajar, hambatan belajar dan lamban belajar.Masing-masingjenis akan mendapatkan program layanan secara khusus.Kelas pendampingan agar berfungsi secara efektif dan efisienmensyaratkan rumusan standar sebagai berikut; rumusan tujuan yangjelas, sasaran, target, mekanisme kerja, program pelayanan khusus yang diberikan. SDM. Sarana prasarana dan batasan pelaksanaan program.

Kata Kunci: kelas Pendamping, problem belajar, pendekatan inklusif.
Sumber : http://eprints.ums.ac.id/1467/1/7._SUMANTRI.pdf

Reproduksi :

            SD Al Firdaus menggunakan konsep pendidikan inklusif yang dilaksanakan oleh kelas pendampingan yang ditangani oleh guru khusus, okupasi terapi (OT) dan psikolog. Mereka bekerjasama dengan komponen sekolah untuk memberikan layanan secara khusus kepada anak yang membutuhkan. Anak yang mengalami problem belajar dikelompokan menjadi tiga jenis, yaitu anak yang menalami kesulitan belajar, hambatan belajar dan lamban belajar. Dalam hal ini masing-masing jenis anak akan mendapatkan  program layanan secara khusus. Layanan khusus ini dimaksudkan agar kelas pendampingan berjalan dan berfungsi dengan efektif dan efisien. Standar  rumusan yang digunakan yaitu : pertama rumusan tujuan yang jelas, kedua sasaran pembelajaran target yang ingin dicapai, mekanisme kerja, program layanan khusus yang ingin diberikan. Sumber daya manusia (SDM), sarana prasarana, dan batasan pelaksanaan program pembelajaran.

Kata Kunci: kelas Pendamping, problem belajar, pendekatan inklusif.

Rabu, 14 Maret 2012

Bunyi Bahasa dan Suara


Bunyi Bahasa dan Suara
1. Bunyi Bahasa
Bunyi bahasa adalah bunyi yang menjadi perhatian para ahli bahasa. Bunyi bahasa ini merupakan sarana komunikasi melalui bahasa dengan cara lisan. Dalam pembentukan bunyi bahasa ada tiga faktor utama yang terlibat, yaitu (1) sumber tenaga, (2) alat ucap penghasil getaran, dan (3) rongga pengubah getaran. (http://id.wikibooks.org/wiki/Bahasa_Indonesia/Bunyi).Contoh :
  • Pengumpul barang bekas menawarkan jasanya dengan berkata " rosok,rosok......" (kata "rosok,rosok....." termasuk bunyi bahasa).
  • Seorang penjual cilok menawarkan ciloknya dengan berkata "cilok'e...cilok'e......" (kata  "cilok'e...cilok'e......" termasuk bunyi bahasa).
  • Seorang penjual sate menawarkan satenya dengan berkata "te...sate..."(kata "te...sate..." termasuk bunyi bahasa).
2. Suara
Suara adalah sesuatu yang dihasilkan oleh getaran yang berasal dari benda yang mengalami getaran sehingga menghasilkan gelombang yang berada diudara.(http://topankuncoro.com/artikel/pengertian-suara-atau-definisi-suara.html )Contoh :

  • Seorang penjual es dong-dong menawarkan daganganya dengan membunyikan gong yang bersuara  dong...dong..dong (bunyi "dong....dong...." digolongkan sebagai suara).
  • Bunyi peluit dalam morse yang digunakan pada kegiatan pramuka digolongkan sebagai suara.
  • Bunyi klakson yang digunakan pengendara sepeda motor digolongkan sebagai suara.

Minggu, 11 Maret 2012

Resume


NAMA            : AGUNG LAWU SANYOTO
NIM                : A310110021
KELAS           : 2A

Resume Dari Buku      :

Judul Buku      : Linguistik Umum
Pengarang       : Abdul Chaer
Tahun Terbit    : 2003
Kota Terbit      : Jakarta
Penerbit           : Rineka Cipta

Linguistik Umum

A.    Pengertian Bahasa
Bahasa adalah system lambing bunyi yang arbriter yang digunakan oleh para kelompok anggota social untuk bekerja sama berkomunikasi mengidentifikasi diri.
B.      Hakikat Bahasa
1.      Bahasa sebagai system.
Bahasa terdiri dari unsure-unsur atau komponen-komponen yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu , dan membentuk suatu kesatuan.
2.      Bahasa sebagi lambang.
Lambang dengan berbagi seluk beluknya dikaji orang dalam kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang disebut ilmu semiotika, atau semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia, termasuk bahasa.
3.      Bahasa adalah bunyi.
Menurut Kridalaksana (1983 : 27) bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara.
Bunyi bahasa atau bunyi ujaran adalah suatu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang didalam fonetik diamati sebagai “fon” dan didalam fonemik sebagai “fonem”.
4.      Bahasa itu bermakna.
Oleh karena lambang-lambang itu mengacu pada suatu konsep ide atau pikiran, maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna.
5.      Bahasa itu arbriter.
Kata arbriter sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, makna suka. Yang dimaksud dengan istilah arbriter  itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau lambang bahasa tersebut.
6.      Bahasa itu konvensional.
7.      Bahasa itu produktif.
8.      Bahasa itu unik.
9.      Bahasa itu universal.
10.  Bahasa itu Dinamis
11.  Bahasa itu Bervariasi
12.  Bahasa itu Manusiawi